Terbuka, Peluang Rupiah Menguat
Ahmad Munjin & Natasha
INILAH.COM, Jakarta – Setelah kemarin melemah, nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (7/5) masih berpeluang menguat. Tapi, seperti saat melemah, penguatannya pun tipis dan dalam kisaran terbatas. Pemicunya aliran dana asing yang masuk ke pasar domestik.
Pengamat valuta asing dari Monex Investindo, Aditya Setia Wibawa, mengatakan potensi penguatan rupiah terjadi seiring aliran dana masuk ke saham dan obaligasi dalam negeri. Namun, data ekonomi AS yang belum mengkonfirmasi adanya pemulihan, dapat menekan mata uang lokal ini.
“Rupiah hari ini akan bergerak terbatas di kisaran 10.350-10.530 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, rupiah beberapa hari terakhir menguat karena dipicu aliran dana yang masuk ke pasar dalam negeri. Para pelaku pasar masuk ke emerging market seiring meningkatnya risk apetite, di mana investor mencari aset berimbal hasil tinggi.
Indonesia pun menjadi pilihan untuk berinvestasi karena GDP-nya cukup bagus, di atas 4-5%. Selain itu, masih ada ekspektasi suku bunga acuan BI akan turun hingga di bawah 7%.
“Banyaknya konversi dolar ke rupiah untuk membeli aset di Indonesia, memicu penguatan rupiah. Ini menyebabkan dolar sementara waktu tidak dijadikan safe haven,” ujarnya.
Aditya menilai, fundamental ekonomi AS yang dirilis hingga akhir pekan ini belum bisa mendukung penguatan dolar. Pasalnya, data ekonomi AS terlihat kontradiktif. Data penjualan ritel dan indikator konsumsi masyarakat naik, sedangkan angka GDP AS justru turun 6,1%.
“Data ini menunjukkan masih adanya risiko sehingga seharusnya investor tidak memburu saham dan aset berimbal hasil tinggi lainnya,” ucapnya.
Aditya pun mensinyalir penguatan bursa sebenarnya dipicu data ekonomi yang artifisial (palsu). Ia pun mengkhawatirkan bursa saham akan mengalami koreksi yang sangat dalam akibat penguatannya yang terlalu tajam karena tidak didukung data ekonomi.
Menurutnya, bila data ekonomi yang dirilis solid, pemulihan baru akan terjadi pada kuartal kedua hingga keempat 2009 mendatang. Namun, saat ini, semua indikasi pemulihan sudah terpapar pada kuartal pertama. Ia pun mengkhawatirkan adanya pelemahan pada kuartal kedua.
“Ini terlalu cepat. Jadi, pada kuartal kedua nanti, mungkin akan terlihat penurunan di korporasi. GDP lemah, sehingga investor kembali memburu dolar,” paparnya.
Aditya menilai, posisi rupiah yang kini sudah sangat rendah serta rawan bagi munculnya aksi beli dolar tidak perlu dikhawatirkan. Ia menuturkan kebutuhan dolar saat ini tidak banyak, hanya terbatas pada importir.
“Kebutuhan dolar importir sudah terukur, dan bisa diatasi dengan cadangan devisa negara sehingga tidak menimbulkan gejolak rupiah. Selain itu, aturan PBI tidak memungkinkan adanya pemeblian dolar dalam jumlah besar,” tegasnya.
Analis valas PT Integral Investama, Tony Mariano, mengatakan pergerakan rupiah hari ini masih berpeluang menguat. Namun, masih ada kemungkinan aksi profit taking menjelang akhir pekan. “Rupiah akan bergerak dengan kisaran 10.380 hingga 10.420,” katanya kepada INILAH.COM.
Penguatan rupiah diperkuat dengan tren pelemahan mata uang dolar AS dalam tiga hari terakhir. Namun, pelaku pasar masih menunggu hasil laporan keuangan dari perbankan Amerika seperti Citigroup dan lain-lain yang akan diumumkan pada saat yang sama dengan hasil stress test 19 bank di Amerika, Kamis (7/5) waktu setempat.
Hasil stress test itu akan mempengaruhi aktivitas di Wall Street. Jika hasilnya positif bisa membuat dolar melemah. Karena asumsi saat ini justru membaiknya ekonomi Amerika akan memicu perbaikan ekonomi di negara di luar mereka yang berakibat pada melemahnya dolar AS. “Apalagi kalau harga minyak mulai bergerak naik, otomatis dolar jadi tertekan,” ujarnya
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (6/5), melemah 40 poin menjadi 10.420 per dolar AS. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup menguat. Rupiah terhadap dolar Singapura naik ke 7.050,85, atas dolar Hong Kong turun menjadi 1.341,88, terhadap dolar Australia menguat ke 7.707,96, dan atas euro ditutup melemah ke level 13.840,30.
Mata uang kawasan juga terdepresiasi terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong tersungkur 0,0032% ke level 7,750, dolar Australia turun 0,09% ke angka 0,743, dolar Selandia Baru meluncur turun 0,54% ke posisi 0,583, dolar Singapura merosot 0,06% menjadi 1,474, dan dolar Taiwan terjun 0,17% ke level 33,171 per dolar AS.
Begitu juga dengan won Korsel yang terjun 0,97% ke posisi 1,277, rupee India terdepak 0,19% ke angka 49,397, yuan China terjungkal 0,04% menjadi 6,822, ringgit Malaysia melemah 0,45% ke level 3,534, dan baht Thailand terkoreksi 0,01% menjadi 35,135. [E2]
$(function(){$('#inilahtabs').tabs();});
Tidak ada komentar:
Posting Komentar