Ahmad Munjin & Natascha
(inilah.com/ Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (5/5) masih berpeluang menguat di bawah level 10.500, bahkan menuju 10 ribu per dolar AS. Sentimen positif dari bursa saham dan ekspektasi penurunan suku bunga, masih membayangi pasar.
Praktisi pasar valas Rosady Montol mengatakan, rupiah hari ini masih bisa menguat. Kisaran 10.500 per dolar AS, dianggap cukup kuat sebagai level resistan rupiah. Namun, penguatan ini akan terbatas karena saat rupiah menyentuh level ini, investor cenderung melakukan pembelian dolar.
“Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 10.450-10.600 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, kemarin. Menurutnya, pasar masih akan bergerak menguat seiring prediksi kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa Indonesia akibat meningkatnya risk apetite investor.
Selain itu tekanan akibat berkurangnya kebutuhan mata uang dolar di dalam negeri juga sudah mereda. “Indikator positif juga datang dari ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan BI rate siang ini, menyusul deflasi April sebesar 0,31%,” imbuhnya.
Ekspektasi penurunan suku bunga, lanjut Rosady, sebenarnya tidak memusingkan pasar. Pasalnya, turunnya suku bunga akan memicu penguatan IHSG sehingga mengindikasikan adanya aliran dana masuk. “Penguatan di beberapa saham biasanya berlanjut pada penguatan rupiah,” terangnya.
Sesuai target indikatif BI rate sebesar 7% hingga akhir tahun, peluang pemangkasan BI rate memang terbatas hanya 50 basis poin. Namun kalau dibandingkan dengan suku bunga The Fed yang menuju 0%, ruang penurunan BI rate lebih lanjut masih terbuka. “BI rate bisa saja turun lebih rendah lagi dari 7%, terutama untuk menggairahkan sektor riil,” ujarnya.
Menurut Rosady, pasar optimistis kondisi fundamental ekonomi Indonesia akan membaik. Meskipun belum ada konfirmasi pemulihan, pasar menilai ekonomi domestik sudah mencapai level bottom, sehingga tinggal menunggu momentum rebound. “Berarti saat ini yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kepercayaan pasar untuk berinvestasi,” jelasnya.
Ia memberi contoh aksi pemerintah AS yang memperlakukan sektor otomotif berbeda dengan sektor perbankan. Dengan mempertimbangkan industri otomotif termasuk sektor riil, maka meskipun keuangannya bermasalah, tidak langsung dipailitkan.
Sementara itu, komitmen ADB dan ASEAN plus tiga negara, dinilai dapat menciptakan kesimbangan neraca perdagangan. Pasalnya ada kesepakatan peminjaman dana untuk menutup defisit anggaran melalui perjanjian bilateral.
Kepala Ekonom dari Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa juga memprediksi, rupiah masih mampu melanjutkan penguatannya hari ini. Menurutnya, pelaku pasar sebelumnya memperkirakan rupiah tidak bisa menguat.
Namun, ketika rupiah menguat hingga menembus level 10.500 per dolar AS, ia memprediksikan penguatan rupiah akan terus berlanjut bahkan ke bawah level 10 ribu per dolar AS. “Kalau sentimen bagus seperti kemarin, rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 10.000 hingga 10.400 per dolar AS,” ungkapnya.
Menurutnya, penguatan rupiah yang cukup tajam didukung kondisi fundamental yang kokoh. Pasar menilai ekonomi Indonesia sudah menyentuh level terendahnya sehingga saat ini hanya menunggu rebound. “Jika tidak terjadi pada pertengahan tahun, kemungkinan awal triwulan keempat 2009,” katanya.
Sedangkan dari eksternal, dolar melemah terhadap beberapa mata uang dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini disebabkan membanjirnya suplai dolar di pasar sehingga menekan mata uang AS tersebut. Karena itu pula rupiah tidak menguat sendirian. Mata uang lain pun menguat terhadap dolar.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (4/5) menguat tajam 170 poin menjadi 10.490 per dolar AS. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup menguat.
Rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke 7.098,02, atas dolar Hong Kong naik menjadi 1.356,77, terhadap dolar Australia menguat ke 7.705,92 dan atas euro ditutup melemah ke level 13.959,71. [E2]
Dolar Mengalir Rupiah Perkasa...... 4/5/2009
INILAH.COM, Jakarta - Angin segar berhembus dari bursa saham ke pasar valas, sehingga nilai tukar rupiah awal pekan ini melambung. Hal ini terjadi seiring pelemahan dolar AS terhadap mata uang utama dunia serta aliran dana asing ke pasar domestik.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (4/5) menguat tajam 170 poin menjadi 10.490 per dolar AS, dibandingkan posisi akhir pekan lalu di level 10.660. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.15 WIB, rupiah menguat 105 poin (0,99%) ke posisi 10.495 per dolar AS.
Chief Economist Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, nilai tukar rupiah hari ini berhasil menembus level di bawah 10.500 per dolar AS akibat pelemahan dolar terhadap mata uang utama.
Menurutnya, ketika AS mencetak uang dalam jumlah besar, suplai dolar di pasar valas membanjir. “Alhasil dolar melemah dan rupiah menguat hingga di bawah level 10.500,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (4/5).
Menurut Purbaya, penguatan rupiah terjadi karena perekonomian Indonesia dianggap lebih baik dibandingkan negara kawasan. Terlihat dimana ekonomi dalam negeri masih positif, sementara ekonomi negara Asia lainnya masih negatif. “Indonesia memiliki daya tarik untuk memikat masuknya dana asing ke pasar domestik,” jelasnya.
Ekspektasi terjadinya pertumbuhan ekonomi, tercermin dari deflasi April sebesar 0,3% dan peluang turunnya BI rate. Selain itu sinyal bahwa ekonomi Indonesia sudah menyentuh bottom, sehingga tinggal menanti momentum rebound. “Itu semua mendorong sentimen positif ke pasar modal dan uang ditandai dengan penguatan rupiah,” tuturnya.
Lebih lanjut Purbaya mengatakan, annual meeting ke-42 Asian Development Bank (ADB) di Bali, turut menopang penguatan rupiah. Hal ini terkait aksi negara-negara anggota yang membuat pooling fund sebesar US$ 120 miliar. “Walaupun implementasinya tidak dalam waktu dekat, tapi sentimen positifnya sudah terefleksi di pasar,” tukasnya.
Melambungnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia juga menjadi pendorong penguatan rupiah. Ketika IHSG naik, pasar berekspektasi rupiah akan menguat terkait prediksi adanya dana asing masuk ke pasar modal. “Investor menganggap ada suplai dolar tambahan, sehingga rupiah menguat,” ujarnya.
Akibatnya, pergerakan indeks dengan rupiah hampir selalu searah. Kalau indeks menguat rupiah dipastikan menguat. Pada saat indeks melemah, investor berpikir kapital akan keluar. “Jadi, ada impact tambahan terhadap rupiah dari penguatan IHSG,” pungkasnya.
Nilai tukar rupiah sore ini terpantau berada di level 7.720 terhadap dolar Australia, di angka 13.978 terhadap mata uang gabungan negara Eropa dan di level 7.112 terhadap dolar Singapura.
Sementara, mata uang kawasan ditransaksikan bervariasi terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,33% ke level 99.446, dolar Singapura turun 0,28% ke posisi 1.478, won Korsel naik 0,98% ke angka 1.274, dolar Australia terkoreksi 0,55% menjadi 0.734, rupee India menguat 0,92% ke posisi 49.690 per dolar AS.
Sedangkan dolar New Zealand terdepresiasi 0,71% ke angka 0.574, dolar Taiwan melemah 0,51% menjadi 33.089, yuan China terapresiasi 0,01% ke posisi 6.822, peso Filipina merosot 0,28% ke angka 48.123, ringgit Malaysia melambung 1,05% ke level 3.531, dan baht Thailand terangkat 0,17% terhadap dolar AS menjadi 35.225. [E2]
$(function(){$('#inilahtabs').tabs();});
Yes! Rupiah Menguat Tembus Rp 10.500 4/5/2009
INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin pagi menembus angka Rp 10.500 per dolar.
Ini disebabkan aksi beli rupiah oleh pelaku pasar setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi April 2009 deflasi sebesar 0,31%. Nilai tukar rupiah naik menjadi Rp 10.465-Rp10.475 per dolar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 10.585-Rp10.595 atau naik 120 poin.
Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga di Jakarta, mengatakan, laju inflasi April 2009 yang lebih rendah dari bulan sebelumnya memicu pelaku pasar positif terhadap pergerakan rupiah. "Pelaku pasar dengan antusias memburu rupiah sehingga mata uang lokal itu terus bergerak hingga menembus angka Rp 10.500 per dolar," ucapnya.
Sentimen positif pasar itu, menurut dia diperkirakan akan masih berlanjut hingga penutupan pasar nanti, karena melihat aksi beli pasar yang cukup besar. "Kami memperkirakan rupiah akan terus menguat menjauhi angka Rp10.500 per dolar," ujarnya.
Menurut Edwin Sinaga, kenaikan rupiah diharapkan tidak terlalu cepat, karena kurang menguntungkan bagi eksportir. "Boleh saja naik, namun kenaikannya tidak terlalu tinggi seperti yang terjadi pada saat ini," ucapnya.
Kenaikan rupiah itu, lanjut dia sejalan dengan makin membaik kinerja ekonomi Indonesia, meski ekspor menurun, namun hal itu terjadi karena permintaan pasar luar negeri cenderung berkurang. "Karena itu, pemerintah berusaha mencari jalan lain dengan mengalihkan ke pasar Eropa Timur yang masih tumbuh, meski untuk menuju ke sana tidak mudah," katanya.
Ia mengatakan, tembusnya rupiah di level Rp 10.500 per dolar sudah diperkirakan sebelumnya, karena pelaku pasar sudah siap menunggu laporan BPS yang cenderung positif. "Karena itu perdagangan di pasar uang saat ini didominasi aksi beli rupiah yang cukup marak," ucapnya. [*/cms]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar