Ahmad Munjin
(inilah.com/ Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada Rabu (30/4) masih berpeluang melanjutkan penguatan. Investor mengantisipasi aksi Bank Indonesia (BI) yang diperhitungkan akan memangkas suku bunga acuan, dengan memburu rupiah.
Analis Sentral Asset Futures, Andri Zacharias mengatakan, rupiah akan cenderung bergerak menguat hingga akhir pekan. Sentimen negatif dari ancaman wabah flu babi dinilai belum akan terjadi dalam waktu dekat. “Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 10.650-10.700 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, pandemik flu babi memang menimbulkan kekhawatiran di antara pelaku pasar. Hal ini terkait terganggunya potensi industri Indonesia, khususnya sektor pariwisata. Pasalnya setelah harga migas turun, Indonesia mengandalkan pemasukan dari arus wisatawan. Namun, lanjutnya, masalah ini diperkirakan baru mulai mengganggu dalam 3-4 bulan mendatang.
“Apalagi Menkes mengatakakan kalau virus ini hanya bisa tumbuh di kawasan empat musim,” ujarnya.
Investor saat ini mengantisipasi rilisnya data inflasi bulan April pada Jumat (1/5), yang diekspektasi masih cukup tinggi dibanding bulan Maret, meski secara tahunan menunjukkan penurunan. Tingginya inflasi dipicu meningkatnya konsumsi dalam masa kampanye.
“Dengan adanya kenaikan inflasi setiap menjelang Pemilu, mungkin akan ada inflasi lagi menjelang pemilihan presiden bulan Mei mendatang,” katanya.
Kondisi ini, lanjutnya, memberi sinyal bahwa agresivitas BI mulai melambat dalam menurunkan suku bunganya. Terbatasnya peluang BI menurunkan BI rate juga terlihat dari real interest rate yang negatif. Dengan angka inflasi di 7,8% dan BI rate di 7,5%, maka real interest rate minus 0,3%.
“Investor pun melakukan antisipasi dengan memburu rupiah. Mereka baru melepasnya lagi kalau BI sudah mengkonfirmasi penurunan BI rate,” tegasnya.
Di sisi lain, tutur Andri, dolar AS di pasar eksternal masih konsolidasi. Mata uang AS ini menunggu arah kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) tentang suku bunga acuannya. Kalau ECB memangkas tingkat bunganya, maka euro akan tertekan. Alhasil dolar mendapat dukungan untuk menguat.
Hal senada diungkapkan Winang Budoyo, analis valas Bank CIMB Niaga. Menurutnya, rupiah hari akan bergerak relatif terbatas. Investor melakukan aksi wait and see terhadap pengumuman inflasi April yang diperkirakan lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya. “Rupiah hari ini akan tetap berada di kisaran 10.800 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.
Dengan turunnya inflasi, maka risiko bisnis dan penanaman modal akan lebih rendah. Imbal hasil yang diperoleh investor pun akan bertambah sehingga mereka tertarik untuk berinvestasi di pasar domestik. Hal ini berimbas pada penguatan rupiah. “Sentimen psoitif perekonomian Indonesia ini mampu menopang penguatan rupiah hingga pekan depan,” ujarnya.
Menurutnya, selama sepekan terakhir, faktor politik dan inflasi menjadi hal yang dinanti investor. Ia pun memprediksi berita besar dari politik nasional baru akan muncul pekan depan, meksipun tidak menutup kemungkinan potensi perubahan besar politik nasional dalam waktu yang lebih dekat. ”Namun untuk hari ini, kemungkinan sentimen terhadap rupiah masih akan datar-datar saja,” tegasnya.
Ia memprediksikan ancaman aksi profit taking pelaku pasar tidak akan terjadi pekan ini karena pergerakannya yang tipis. Pasar cenderung menunggu berita baru, baik dari inflasi maupun politik. “Kalau menunggu berarti tidak melakukan aksi apapun, baik jual maupun beli,” pungkasnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta Rabu (29/4) menguat 10 poin terhadap dolar AS menjadi 10.800. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup bervariasi. Rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke 7.264,24, atas dolar Hongkong naik ke 1.395,39, terhadap dolar Australia melemah ke 7.753,27 dan atas euro melemah ke 14.321,21 .
Sementara itu, mata uang kawasan mendominasi penguatan terhadap dolar AS. Hanya lima mata uang yang melemah. Yen Jepang merosot 0,33% menjadi 96,764, dolar Hong Kong terkoreksi 0,004% ke level 7,750, dolar Australia anjlok 1,11% ke posisi 0,714, dolar Selandia Baru terjun 1,59% ke angka 0,567, dan peso Filipina yang turun 0,56% menjadi 48,675 per dolar AS.
Selebihnya, mata uang kawasan menguat terhadap dolar AS. Dolar Singapura terapresiasi 0,22% ke angka 1,493, dolar Taiwan naik 0,40% ke level 33,652, won Korsel terangkat 0,85% ke posisi 1,339, rupee India terdongkrak 0,60% menjadi 50,210, yuan China terkerek naik 0,01% ke angka 6,825, ringgit Malaysia merambat naik 0,53% ke posisi 3,593, dan baht Thailand terbang 0,09% terhadap dolar AS ke level 35,385. [E2]
Rupiah Kembali Terangkat.......
VIVAnews - Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pukul 08.40 WIB terangkat kembali di kisaran level 10.670-10.700 per dolar Amerika Serikat (US$).Pasalnya, pada penutupan Rabu, 29 April 2009, di pasar spot antarbank Jakarta, mata uang lokal itu ditutup pada kisaran level 10.845-10.859 per dolar AS.Sedangkan data kurs tengah mata uang asing Bank Indonesia, rupiah bercokol di level 10.859/US$.
Menurut Frans Darwin Sinurat, dealer valas PT Bank Century Tbk, menguatnya sebagian besar mata uang regional terhadap dolar AS menjadi pemicu utama penguatan rupiah pagi ini."Saat pembukaan rupiah langsung menguat di kisaran 10.750-10.775/US$," ujarnya kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis, 30 April 2009.
Sementara itu, berdasarkan data transaksi perdagangan Bloomberg, rupiah pukul 08.30 WIB, berada di posisi 10.750 per dolar AS. Dia memperkirakan, mata uang lokal tersebut pada siang sampai penutupan sore hari nanti cenderung menguat di kisaran level 10.650/US$. Sebab, masuknya modal asing (capital inflow) di pasar saham domestik bakal mendorong pergerakan positif rupiah.
"Tapi, korporasi dan investor tetap melakukan aksi buru dolar AS untuk disimpan," tuturnya.Sementara itu, data proyeksi likuiditas Bank Indonesia pada pukul 08.30 WIB menunjukkan likuiditas di pasar domestik meningkat menjadi Rp 79,27 triliun dibandingkan posisi transaksi kemarin di Rp 35,65 triliun.
Data instrumen Operasi Pasar Terbuka yang jatuh tempo juga mencapai Rp 65,35 triliun, atau naik dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp 33,27 triliun.Sedangkan, excess reserve akhir hari tercatat meningkat menjadi Rp 1,7 triliun dari transaksi kemarin yang sebesar Rp 1,41 triliun.• VIVAnews
Tidak ada komentar:
Posting Komentar