Rupiah Kembali Melemah Tipis
Mata uang lokal tersebut pada siang sampai penutupan sore hari nanti cenderung melemah.
Jum'at, 8 Mei 2009, 08:54 WIB
VIVAnews - Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pukul 08.30 WIB kembali melemah tipis di kisaran level 10.350-10.400 per dolar Amerika Serikat (US$).Pasalnya, pada penutupan Kamis, 7 Mei 2009, di pasar spot antarbank Jakarta, mata uang lokal itu ditutup pada kisaran level 10.360-10.386 per dolar AS.Sedangkan data kurs tengah mata uang asing Bank Indonesia, rupiah bercokol di level 10.360/US$.Menurut Frans Darwin Sinurat, dealer valas PT Bank Century Tbk, melemahnya bursa global dan regional seperti Dow Jones dan Straits Times, serta pelemahan sebagian besar mata uang regional terhadap dolar AS menjadi pemicu utama pelemahan rupiah pagi ini."Sebab, diprediksi pelemahan itu berimbas ke pasar saham kita hari ini" ujarnya kepada VIVAnews di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2009.Sementara itu, berdasarkan data transaksi perdagangan Bloomberg, rupiah pukul 08.30 WIB, berada di posisi 10.447 per dolar AS.
Dia memperkirakan, mata uang lokal tersebut pada siang sampai penutupan sore hari nanti cenderung melemah di level 10.500/US$. Sebab, selain bursa saham yang cenderung tertekan, sudah menjadi kebiasaan ketika akhir pekan orang memburu dolar.
Sementara itu, data proyeksi likuiditas Bank Indonesia pada pukul 08.30 WIB menunjukkan likuiditas di pasar domestik menurun menjadi Rp 22,36 triliun dibandingkan posisi transaksi kemarin di Rp 38,72 triliun.Data instrumen Operasi Pasar Terbuka yang jatuh tempo juga mencapai Rp 25,21 triliun, atau turun dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp 38,69 triliun.Sedangkan, excess reserve akhir hari tercatat meningkat menjadi Rp 1,7 triliun dari transaksi kemarin yang sebesar Rp 1,52 triliun.
08 Mei 2009
07 Mei 2009
Rupiah terus Menguat
Terbuka, Peluang Rupiah Menguat
Ahmad Munjin & Natasha
INILAH.COM, Jakarta – Setelah kemarin melemah, nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (7/5) masih berpeluang menguat. Tapi, seperti saat melemah, penguatannya pun tipis dan dalam kisaran terbatas. Pemicunya aliran dana asing yang masuk ke pasar domestik.
Pengamat valuta asing dari Monex Investindo, Aditya Setia Wibawa, mengatakan potensi penguatan rupiah terjadi seiring aliran dana masuk ke saham dan obaligasi dalam negeri. Namun, data ekonomi AS yang belum mengkonfirmasi adanya pemulihan, dapat menekan mata uang lokal ini.
“Rupiah hari ini akan bergerak terbatas di kisaran 10.350-10.530 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, rupiah beberapa hari terakhir menguat karena dipicu aliran dana yang masuk ke pasar dalam negeri. Para pelaku pasar masuk ke emerging market seiring meningkatnya risk apetite, di mana investor mencari aset berimbal hasil tinggi.
Indonesia pun menjadi pilihan untuk berinvestasi karena GDP-nya cukup bagus, di atas 4-5%. Selain itu, masih ada ekspektasi suku bunga acuan BI akan turun hingga di bawah 7%.
“Banyaknya konversi dolar ke rupiah untuk membeli aset di Indonesia, memicu penguatan rupiah. Ini menyebabkan dolar sementara waktu tidak dijadikan safe haven,” ujarnya.
Aditya menilai, fundamental ekonomi AS yang dirilis hingga akhir pekan ini belum bisa mendukung penguatan dolar. Pasalnya, data ekonomi AS terlihat kontradiktif. Data penjualan ritel dan indikator konsumsi masyarakat naik, sedangkan angka GDP AS justru turun 6,1%.
“Data ini menunjukkan masih adanya risiko sehingga seharusnya investor tidak memburu saham dan aset berimbal hasil tinggi lainnya,” ucapnya.
Aditya pun mensinyalir penguatan bursa sebenarnya dipicu data ekonomi yang artifisial (palsu). Ia pun mengkhawatirkan bursa saham akan mengalami koreksi yang sangat dalam akibat penguatannya yang terlalu tajam karena tidak didukung data ekonomi.
Menurutnya, bila data ekonomi yang dirilis solid, pemulihan baru akan terjadi pada kuartal kedua hingga keempat 2009 mendatang. Namun, saat ini, semua indikasi pemulihan sudah terpapar pada kuartal pertama. Ia pun mengkhawatirkan adanya pelemahan pada kuartal kedua.
“Ini terlalu cepat. Jadi, pada kuartal kedua nanti, mungkin akan terlihat penurunan di korporasi. GDP lemah, sehingga investor kembali memburu dolar,” paparnya.
Aditya menilai, posisi rupiah yang kini sudah sangat rendah serta rawan bagi munculnya aksi beli dolar tidak perlu dikhawatirkan. Ia menuturkan kebutuhan dolar saat ini tidak banyak, hanya terbatas pada importir.
“Kebutuhan dolar importir sudah terukur, dan bisa diatasi dengan cadangan devisa negara sehingga tidak menimbulkan gejolak rupiah. Selain itu, aturan PBI tidak memungkinkan adanya pemeblian dolar dalam jumlah besar,” tegasnya.
Analis valas PT Integral Investama, Tony Mariano, mengatakan pergerakan rupiah hari ini masih berpeluang menguat. Namun, masih ada kemungkinan aksi profit taking menjelang akhir pekan. “Rupiah akan bergerak dengan kisaran 10.380 hingga 10.420,” katanya kepada INILAH.COM.
Penguatan rupiah diperkuat dengan tren pelemahan mata uang dolar AS dalam tiga hari terakhir. Namun, pelaku pasar masih menunggu hasil laporan keuangan dari perbankan Amerika seperti Citigroup dan lain-lain yang akan diumumkan pada saat yang sama dengan hasil stress test 19 bank di Amerika, Kamis (7/5) waktu setempat.
Hasil stress test itu akan mempengaruhi aktivitas di Wall Street. Jika hasilnya positif bisa membuat dolar melemah. Karena asumsi saat ini justru membaiknya ekonomi Amerika akan memicu perbaikan ekonomi di negara di luar mereka yang berakibat pada melemahnya dolar AS. “Apalagi kalau harga minyak mulai bergerak naik, otomatis dolar jadi tertekan,” ujarnya
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (6/5), melemah 40 poin menjadi 10.420 per dolar AS. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup menguat. Rupiah terhadap dolar Singapura naik ke 7.050,85, atas dolar Hong Kong turun menjadi 1.341,88, terhadap dolar Australia menguat ke 7.707,96, dan atas euro ditutup melemah ke level 13.840,30.
Mata uang kawasan juga terdepresiasi terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong tersungkur 0,0032% ke level 7,750, dolar Australia turun 0,09% ke angka 0,743, dolar Selandia Baru meluncur turun 0,54% ke posisi 0,583, dolar Singapura merosot 0,06% menjadi 1,474, dan dolar Taiwan terjun 0,17% ke level 33,171 per dolar AS.
Begitu juga dengan won Korsel yang terjun 0,97% ke posisi 1,277, rupee India terdepak 0,19% ke angka 49,397, yuan China terjungkal 0,04% menjadi 6,822, ringgit Malaysia melemah 0,45% ke level 3,534, dan baht Thailand terkoreksi 0,01% menjadi 35,135. [E2]
$(function(){$('#inilahtabs').tabs();});
Ahmad Munjin & Natasha
INILAH.COM, Jakarta – Setelah kemarin melemah, nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (7/5) masih berpeluang menguat. Tapi, seperti saat melemah, penguatannya pun tipis dan dalam kisaran terbatas. Pemicunya aliran dana asing yang masuk ke pasar domestik.
Pengamat valuta asing dari Monex Investindo, Aditya Setia Wibawa, mengatakan potensi penguatan rupiah terjadi seiring aliran dana masuk ke saham dan obaligasi dalam negeri. Namun, data ekonomi AS yang belum mengkonfirmasi adanya pemulihan, dapat menekan mata uang lokal ini.
“Rupiah hari ini akan bergerak terbatas di kisaran 10.350-10.530 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, rupiah beberapa hari terakhir menguat karena dipicu aliran dana yang masuk ke pasar dalam negeri. Para pelaku pasar masuk ke emerging market seiring meningkatnya risk apetite, di mana investor mencari aset berimbal hasil tinggi.
Indonesia pun menjadi pilihan untuk berinvestasi karena GDP-nya cukup bagus, di atas 4-5%. Selain itu, masih ada ekspektasi suku bunga acuan BI akan turun hingga di bawah 7%.
“Banyaknya konversi dolar ke rupiah untuk membeli aset di Indonesia, memicu penguatan rupiah. Ini menyebabkan dolar sementara waktu tidak dijadikan safe haven,” ujarnya.
Aditya menilai, fundamental ekonomi AS yang dirilis hingga akhir pekan ini belum bisa mendukung penguatan dolar. Pasalnya, data ekonomi AS terlihat kontradiktif. Data penjualan ritel dan indikator konsumsi masyarakat naik, sedangkan angka GDP AS justru turun 6,1%.
“Data ini menunjukkan masih adanya risiko sehingga seharusnya investor tidak memburu saham dan aset berimbal hasil tinggi lainnya,” ucapnya.
Aditya pun mensinyalir penguatan bursa sebenarnya dipicu data ekonomi yang artifisial (palsu). Ia pun mengkhawatirkan bursa saham akan mengalami koreksi yang sangat dalam akibat penguatannya yang terlalu tajam karena tidak didukung data ekonomi.
Menurutnya, bila data ekonomi yang dirilis solid, pemulihan baru akan terjadi pada kuartal kedua hingga keempat 2009 mendatang. Namun, saat ini, semua indikasi pemulihan sudah terpapar pada kuartal pertama. Ia pun mengkhawatirkan adanya pelemahan pada kuartal kedua.
“Ini terlalu cepat. Jadi, pada kuartal kedua nanti, mungkin akan terlihat penurunan di korporasi. GDP lemah, sehingga investor kembali memburu dolar,” paparnya.
Aditya menilai, posisi rupiah yang kini sudah sangat rendah serta rawan bagi munculnya aksi beli dolar tidak perlu dikhawatirkan. Ia menuturkan kebutuhan dolar saat ini tidak banyak, hanya terbatas pada importir.
“Kebutuhan dolar importir sudah terukur, dan bisa diatasi dengan cadangan devisa negara sehingga tidak menimbulkan gejolak rupiah. Selain itu, aturan PBI tidak memungkinkan adanya pemeblian dolar dalam jumlah besar,” tegasnya.
Analis valas PT Integral Investama, Tony Mariano, mengatakan pergerakan rupiah hari ini masih berpeluang menguat. Namun, masih ada kemungkinan aksi profit taking menjelang akhir pekan. “Rupiah akan bergerak dengan kisaran 10.380 hingga 10.420,” katanya kepada INILAH.COM.
Penguatan rupiah diperkuat dengan tren pelemahan mata uang dolar AS dalam tiga hari terakhir. Namun, pelaku pasar masih menunggu hasil laporan keuangan dari perbankan Amerika seperti Citigroup dan lain-lain yang akan diumumkan pada saat yang sama dengan hasil stress test 19 bank di Amerika, Kamis (7/5) waktu setempat.
Hasil stress test itu akan mempengaruhi aktivitas di Wall Street. Jika hasilnya positif bisa membuat dolar melemah. Karena asumsi saat ini justru membaiknya ekonomi Amerika akan memicu perbaikan ekonomi di negara di luar mereka yang berakibat pada melemahnya dolar AS. “Apalagi kalau harga minyak mulai bergerak naik, otomatis dolar jadi tertekan,” ujarnya
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (6/5), melemah 40 poin menjadi 10.420 per dolar AS. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup menguat. Rupiah terhadap dolar Singapura naik ke 7.050,85, atas dolar Hong Kong turun menjadi 1.341,88, terhadap dolar Australia menguat ke 7.707,96, dan atas euro ditutup melemah ke level 13.840,30.
Mata uang kawasan juga terdepresiasi terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong tersungkur 0,0032% ke level 7,750, dolar Australia turun 0,09% ke angka 0,743, dolar Selandia Baru meluncur turun 0,54% ke posisi 0,583, dolar Singapura merosot 0,06% menjadi 1,474, dan dolar Taiwan terjun 0,17% ke level 33,171 per dolar AS.
Begitu juga dengan won Korsel yang terjun 0,97% ke posisi 1,277, rupee India terdepak 0,19% ke angka 49,397, yuan China terjungkal 0,04% menjadi 6,822, ringgit Malaysia melemah 0,45% ke level 3,534, dan baht Thailand terkoreksi 0,01% menjadi 35,135. [E2]
$(function(){$('#inilahtabs').tabs();});
06 Mei 2009
Rupiah Melemah
Profit Taking, Rupiah Melemah Tipis
Investor memilih ambil untung setelah rupiah mengalami penguatan tajam.
Rabu, 6 Mei 2009, 09:03 WIB
Hadi Suprapto
VIVAnews - Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank perdagangan Rabu 6 Mei 2009, melemah. Investor memilih ambil untung atau profit taking setelah rupiah mengalami penguatan tajam beberapa hari terakhir.Pada pukul 08.40 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika melamah 32 poin atau 0,30 persen ke 10.440/US$.
Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia pagi ini berada pada level 10.415/US$.Dealer valas dari Bank CIMB Niaga Emmanuel Krisnijayanto mengatakan, penurunan rupiah juga terjadi menyusul aksi jual saham di Bursa Efek Indonesia. "Separtinya hari ini, mereka (investor saham) mendapatkan dana tunai dari penjualan saham dan menukar kembali ke dolar," kata Emmanuel kepada VIVAnews melalui sambungan telepon, Rabu 6 Mei 2009.
Penurunan rupiah juga dipicu menguatnya dolar Amerika terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk euro. Data perdagangan di Bloomberg menunjukkan, pagi ini euro juga melemah 0,21 persen ke US$ 1,330 per euro, dan pounds melemah 0,307 persen atau US$ 1,5044 per pounds.Demikian juga dengan mata uang di Asia Pasifik, dolar Singapura melemah 0,207 persen ke 1,476/US$, dan dolar Australia turun 0,503 persen ke US$ 0,738 per dolar Australia. Dolar Hong Kong juga melemah 0,003 persen ke 7,750/US$. Sedangkan yen Jepang menguat 0,111 persen ke 98,7000/US$.
Meski demikian, Emmanuel mengatakan, Bank Indonesia akan menjaga rupiah pada level 10.500/US$. "Ini merupakan level psikologis. Bank Indonesia pasti akan menjaganya," kata dia.
Data proyeksi likuiditas Bank Indonesia pada pukul 08.30 WIB menunjukkan, likuiditas di pasar domestik turun dari Rp 26,65 triliun pada hari sebelumnya menjadi Rp 19,42 triliun.Data instrumen Operasi Pasar Terbuka yang jatuh tempo turun dari Rp 27,92 triliun menjadi Rp 18,68 triliun. Sedangkan, excess reserve akhir hari tercatat stagnan di Rp 1,70 triliun.
Investor memilih ambil untung setelah rupiah mengalami penguatan tajam.
Rabu, 6 Mei 2009, 09:03 WIB
Hadi Suprapto
VIVAnews - Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank perdagangan Rabu 6 Mei 2009, melemah. Investor memilih ambil untung atau profit taking setelah rupiah mengalami penguatan tajam beberapa hari terakhir.Pada pukul 08.40 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika melamah 32 poin atau 0,30 persen ke 10.440/US$.
Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia pagi ini berada pada level 10.415/US$.Dealer valas dari Bank CIMB Niaga Emmanuel Krisnijayanto mengatakan, penurunan rupiah juga terjadi menyusul aksi jual saham di Bursa Efek Indonesia. "Separtinya hari ini, mereka (investor saham) mendapatkan dana tunai dari penjualan saham dan menukar kembali ke dolar," kata Emmanuel kepada VIVAnews melalui sambungan telepon, Rabu 6 Mei 2009.
Penurunan rupiah juga dipicu menguatnya dolar Amerika terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk euro. Data perdagangan di Bloomberg menunjukkan, pagi ini euro juga melemah 0,21 persen ke US$ 1,330 per euro, dan pounds melemah 0,307 persen atau US$ 1,5044 per pounds.Demikian juga dengan mata uang di Asia Pasifik, dolar Singapura melemah 0,207 persen ke 1,476/US$, dan dolar Australia turun 0,503 persen ke US$ 0,738 per dolar Australia. Dolar Hong Kong juga melemah 0,003 persen ke 7,750/US$. Sedangkan yen Jepang menguat 0,111 persen ke 98,7000/US$.
Meski demikian, Emmanuel mengatakan, Bank Indonesia akan menjaga rupiah pada level 10.500/US$. "Ini merupakan level psikologis. Bank Indonesia pasti akan menjaganya," kata dia.
Data proyeksi likuiditas Bank Indonesia pada pukul 08.30 WIB menunjukkan, likuiditas di pasar domestik turun dari Rp 26,65 triliun pada hari sebelumnya menjadi Rp 19,42 triliun.Data instrumen Operasi Pasar Terbuka yang jatuh tempo turun dari Rp 27,92 triliun menjadi Rp 18,68 triliun. Sedangkan, excess reserve akhir hari tercatat stagnan di Rp 1,70 triliun.
05 Mei 2009
Rupiah Siap Menuju 10 Ribu......
Ahmad Munjin & Natascha
(inilah.com/ Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (5/5) masih berpeluang menguat di bawah level 10.500, bahkan menuju 10 ribu per dolar AS. Sentimen positif dari bursa saham dan ekspektasi penurunan suku bunga, masih membayangi pasar.
Praktisi pasar valas Rosady Montol mengatakan, rupiah hari ini masih bisa menguat. Kisaran 10.500 per dolar AS, dianggap cukup kuat sebagai level resistan rupiah. Namun, penguatan ini akan terbatas karena saat rupiah menyentuh level ini, investor cenderung melakukan pembelian dolar.
“Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 10.450-10.600 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, kemarin. Menurutnya, pasar masih akan bergerak menguat seiring prediksi kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa Indonesia akibat meningkatnya risk apetite investor.
Selain itu tekanan akibat berkurangnya kebutuhan mata uang dolar di dalam negeri juga sudah mereda. “Indikator positif juga datang dari ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan BI rate siang ini, menyusul deflasi April sebesar 0,31%,” imbuhnya.
Ekspektasi penurunan suku bunga, lanjut Rosady, sebenarnya tidak memusingkan pasar. Pasalnya, turunnya suku bunga akan memicu penguatan IHSG sehingga mengindikasikan adanya aliran dana masuk. “Penguatan di beberapa saham biasanya berlanjut pada penguatan rupiah,” terangnya.
Sesuai target indikatif BI rate sebesar 7% hingga akhir tahun, peluang pemangkasan BI rate memang terbatas hanya 50 basis poin. Namun kalau dibandingkan dengan suku bunga The Fed yang menuju 0%, ruang penurunan BI rate lebih lanjut masih terbuka. “BI rate bisa saja turun lebih rendah lagi dari 7%, terutama untuk menggairahkan sektor riil,” ujarnya.
Menurut Rosady, pasar optimistis kondisi fundamental ekonomi Indonesia akan membaik. Meskipun belum ada konfirmasi pemulihan, pasar menilai ekonomi domestik sudah mencapai level bottom, sehingga tinggal menunggu momentum rebound. “Berarti saat ini yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kepercayaan pasar untuk berinvestasi,” jelasnya.
Ia memberi contoh aksi pemerintah AS yang memperlakukan sektor otomotif berbeda dengan sektor perbankan. Dengan mempertimbangkan industri otomotif termasuk sektor riil, maka meskipun keuangannya bermasalah, tidak langsung dipailitkan.
Sementara itu, komitmen ADB dan ASEAN plus tiga negara, dinilai dapat menciptakan kesimbangan neraca perdagangan. Pasalnya ada kesepakatan peminjaman dana untuk menutup defisit anggaran melalui perjanjian bilateral.
Kepala Ekonom dari Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa juga memprediksi, rupiah masih mampu melanjutkan penguatannya hari ini. Menurutnya, pelaku pasar sebelumnya memperkirakan rupiah tidak bisa menguat.
Namun, ketika rupiah menguat hingga menembus level 10.500 per dolar AS, ia memprediksikan penguatan rupiah akan terus berlanjut bahkan ke bawah level 10 ribu per dolar AS. “Kalau sentimen bagus seperti kemarin, rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 10.000 hingga 10.400 per dolar AS,” ungkapnya.
Menurutnya, penguatan rupiah yang cukup tajam didukung kondisi fundamental yang kokoh. Pasar menilai ekonomi Indonesia sudah menyentuh level terendahnya sehingga saat ini hanya menunggu rebound. “Jika tidak terjadi pada pertengahan tahun, kemungkinan awal triwulan keempat 2009,” katanya.
Sedangkan dari eksternal, dolar melemah terhadap beberapa mata uang dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini disebabkan membanjirnya suplai dolar di pasar sehingga menekan mata uang AS tersebut. Karena itu pula rupiah tidak menguat sendirian. Mata uang lain pun menguat terhadap dolar.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (4/5) menguat tajam 170 poin menjadi 10.490 per dolar AS. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup menguat.
Rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke 7.098,02, atas dolar Hong Kong naik menjadi 1.356,77, terhadap dolar Australia menguat ke 7.705,92 dan atas euro ditutup melemah ke level 13.959,71. [E2]
Dolar Mengalir Rupiah Perkasa...... 4/5/2009
INILAH.COM, Jakarta - Angin segar berhembus dari bursa saham ke pasar valas, sehingga nilai tukar rupiah awal pekan ini melambung. Hal ini terjadi seiring pelemahan dolar AS terhadap mata uang utama dunia serta aliran dana asing ke pasar domestik.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (4/5) menguat tajam 170 poin menjadi 10.490 per dolar AS, dibandingkan posisi akhir pekan lalu di level 10.660. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.15 WIB, rupiah menguat 105 poin (0,99%) ke posisi 10.495 per dolar AS.
Chief Economist Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, nilai tukar rupiah hari ini berhasil menembus level di bawah 10.500 per dolar AS akibat pelemahan dolar terhadap mata uang utama.
Menurutnya, ketika AS mencetak uang dalam jumlah besar, suplai dolar di pasar valas membanjir. “Alhasil dolar melemah dan rupiah menguat hingga di bawah level 10.500,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (4/5).
Menurut Purbaya, penguatan rupiah terjadi karena perekonomian Indonesia dianggap lebih baik dibandingkan negara kawasan. Terlihat dimana ekonomi dalam negeri masih positif, sementara ekonomi negara Asia lainnya masih negatif. “Indonesia memiliki daya tarik untuk memikat masuknya dana asing ke pasar domestik,” jelasnya.
Ekspektasi terjadinya pertumbuhan ekonomi, tercermin dari deflasi April sebesar 0,3% dan peluang turunnya BI rate. Selain itu sinyal bahwa ekonomi Indonesia sudah menyentuh bottom, sehingga tinggal menanti momentum rebound. “Itu semua mendorong sentimen positif ke pasar modal dan uang ditandai dengan penguatan rupiah,” tuturnya.
Lebih lanjut Purbaya mengatakan, annual meeting ke-42 Asian Development Bank (ADB) di Bali, turut menopang penguatan rupiah. Hal ini terkait aksi negara-negara anggota yang membuat pooling fund sebesar US$ 120 miliar. “Walaupun implementasinya tidak dalam waktu dekat, tapi sentimen positifnya sudah terefleksi di pasar,” tukasnya.
Melambungnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia juga menjadi pendorong penguatan rupiah. Ketika IHSG naik, pasar berekspektasi rupiah akan menguat terkait prediksi adanya dana asing masuk ke pasar modal. “Investor menganggap ada suplai dolar tambahan, sehingga rupiah menguat,” ujarnya.
Akibatnya, pergerakan indeks dengan rupiah hampir selalu searah. Kalau indeks menguat rupiah dipastikan menguat. Pada saat indeks melemah, investor berpikir kapital akan keluar. “Jadi, ada impact tambahan terhadap rupiah dari penguatan IHSG,” pungkasnya.
Nilai tukar rupiah sore ini terpantau berada di level 7.720 terhadap dolar Australia, di angka 13.978 terhadap mata uang gabungan negara Eropa dan di level 7.112 terhadap dolar Singapura.
Sementara, mata uang kawasan ditransaksikan bervariasi terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,33% ke level 99.446, dolar Singapura turun 0,28% ke posisi 1.478, won Korsel naik 0,98% ke angka 1.274, dolar Australia terkoreksi 0,55% menjadi 0.734, rupee India menguat 0,92% ke posisi 49.690 per dolar AS.
Sedangkan dolar New Zealand terdepresiasi 0,71% ke angka 0.574, dolar Taiwan melemah 0,51% menjadi 33.089, yuan China terapresiasi 0,01% ke posisi 6.822, peso Filipina merosot 0,28% ke angka 48.123, ringgit Malaysia melambung 1,05% ke level 3.531, dan baht Thailand terangkat 0,17% terhadap dolar AS menjadi 35.225. [E2]
$(function(){$('#inilahtabs').tabs();});
Yes! Rupiah Menguat Tembus Rp 10.500 4/5/2009
INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin pagi menembus angka Rp 10.500 per dolar.
Ini disebabkan aksi beli rupiah oleh pelaku pasar setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi April 2009 deflasi sebesar 0,31%. Nilai tukar rupiah naik menjadi Rp 10.465-Rp10.475 per dolar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 10.585-Rp10.595 atau naik 120 poin.
Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga di Jakarta, mengatakan, laju inflasi April 2009 yang lebih rendah dari bulan sebelumnya memicu pelaku pasar positif terhadap pergerakan rupiah. "Pelaku pasar dengan antusias memburu rupiah sehingga mata uang lokal itu terus bergerak hingga menembus angka Rp 10.500 per dolar," ucapnya.
Sentimen positif pasar itu, menurut dia diperkirakan akan masih berlanjut hingga penutupan pasar nanti, karena melihat aksi beli pasar yang cukup besar. "Kami memperkirakan rupiah akan terus menguat menjauhi angka Rp10.500 per dolar," ujarnya.
Menurut Edwin Sinaga, kenaikan rupiah diharapkan tidak terlalu cepat, karena kurang menguntungkan bagi eksportir. "Boleh saja naik, namun kenaikannya tidak terlalu tinggi seperti yang terjadi pada saat ini," ucapnya.
Kenaikan rupiah itu, lanjut dia sejalan dengan makin membaik kinerja ekonomi Indonesia, meski ekspor menurun, namun hal itu terjadi karena permintaan pasar luar negeri cenderung berkurang. "Karena itu, pemerintah berusaha mencari jalan lain dengan mengalihkan ke pasar Eropa Timur yang masih tumbuh, meski untuk menuju ke sana tidak mudah," katanya.
Ia mengatakan, tembusnya rupiah di level Rp 10.500 per dolar sudah diperkirakan sebelumnya, karena pelaku pasar sudah siap menunggu laporan BPS yang cenderung positif. "Karena itu perdagangan di pasar uang saat ini didominasi aksi beli rupiah yang cukup marak," ucapnya. [*/cms]
(inilah.com/ Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (5/5) masih berpeluang menguat di bawah level 10.500, bahkan menuju 10 ribu per dolar AS. Sentimen positif dari bursa saham dan ekspektasi penurunan suku bunga, masih membayangi pasar.
Praktisi pasar valas Rosady Montol mengatakan, rupiah hari ini masih bisa menguat. Kisaran 10.500 per dolar AS, dianggap cukup kuat sebagai level resistan rupiah. Namun, penguatan ini akan terbatas karena saat rupiah menyentuh level ini, investor cenderung melakukan pembelian dolar.
“Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 10.450-10.600 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, kemarin. Menurutnya, pasar masih akan bergerak menguat seiring prediksi kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa Indonesia akibat meningkatnya risk apetite investor.
Selain itu tekanan akibat berkurangnya kebutuhan mata uang dolar di dalam negeri juga sudah mereda. “Indikator positif juga datang dari ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan BI rate siang ini, menyusul deflasi April sebesar 0,31%,” imbuhnya.
Ekspektasi penurunan suku bunga, lanjut Rosady, sebenarnya tidak memusingkan pasar. Pasalnya, turunnya suku bunga akan memicu penguatan IHSG sehingga mengindikasikan adanya aliran dana masuk. “Penguatan di beberapa saham biasanya berlanjut pada penguatan rupiah,” terangnya.
Sesuai target indikatif BI rate sebesar 7% hingga akhir tahun, peluang pemangkasan BI rate memang terbatas hanya 50 basis poin. Namun kalau dibandingkan dengan suku bunga The Fed yang menuju 0%, ruang penurunan BI rate lebih lanjut masih terbuka. “BI rate bisa saja turun lebih rendah lagi dari 7%, terutama untuk menggairahkan sektor riil,” ujarnya.
Menurut Rosady, pasar optimistis kondisi fundamental ekonomi Indonesia akan membaik. Meskipun belum ada konfirmasi pemulihan, pasar menilai ekonomi domestik sudah mencapai level bottom, sehingga tinggal menunggu momentum rebound. “Berarti saat ini yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kepercayaan pasar untuk berinvestasi,” jelasnya.
Ia memberi contoh aksi pemerintah AS yang memperlakukan sektor otomotif berbeda dengan sektor perbankan. Dengan mempertimbangkan industri otomotif termasuk sektor riil, maka meskipun keuangannya bermasalah, tidak langsung dipailitkan.
Sementara itu, komitmen ADB dan ASEAN plus tiga negara, dinilai dapat menciptakan kesimbangan neraca perdagangan. Pasalnya ada kesepakatan peminjaman dana untuk menutup defisit anggaran melalui perjanjian bilateral.
Kepala Ekonom dari Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa juga memprediksi, rupiah masih mampu melanjutkan penguatannya hari ini. Menurutnya, pelaku pasar sebelumnya memperkirakan rupiah tidak bisa menguat.
Namun, ketika rupiah menguat hingga menembus level 10.500 per dolar AS, ia memprediksikan penguatan rupiah akan terus berlanjut bahkan ke bawah level 10 ribu per dolar AS. “Kalau sentimen bagus seperti kemarin, rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 10.000 hingga 10.400 per dolar AS,” ungkapnya.
Menurutnya, penguatan rupiah yang cukup tajam didukung kondisi fundamental yang kokoh. Pasar menilai ekonomi Indonesia sudah menyentuh level terendahnya sehingga saat ini hanya menunggu rebound. “Jika tidak terjadi pada pertengahan tahun, kemungkinan awal triwulan keempat 2009,” katanya.
Sedangkan dari eksternal, dolar melemah terhadap beberapa mata uang dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini disebabkan membanjirnya suplai dolar di pasar sehingga menekan mata uang AS tersebut. Karena itu pula rupiah tidak menguat sendirian. Mata uang lain pun menguat terhadap dolar.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (4/5) menguat tajam 170 poin menjadi 10.490 per dolar AS. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup menguat.
Rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke 7.098,02, atas dolar Hong Kong naik menjadi 1.356,77, terhadap dolar Australia menguat ke 7.705,92 dan atas euro ditutup melemah ke level 13.959,71. [E2]
Dolar Mengalir Rupiah Perkasa...... 4/5/2009
INILAH.COM, Jakarta - Angin segar berhembus dari bursa saham ke pasar valas, sehingga nilai tukar rupiah awal pekan ini melambung. Hal ini terjadi seiring pelemahan dolar AS terhadap mata uang utama dunia serta aliran dana asing ke pasar domestik.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (4/5) menguat tajam 170 poin menjadi 10.490 per dolar AS, dibandingkan posisi akhir pekan lalu di level 10.660. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.15 WIB, rupiah menguat 105 poin (0,99%) ke posisi 10.495 per dolar AS.
Chief Economist Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, nilai tukar rupiah hari ini berhasil menembus level di bawah 10.500 per dolar AS akibat pelemahan dolar terhadap mata uang utama.
Menurutnya, ketika AS mencetak uang dalam jumlah besar, suplai dolar di pasar valas membanjir. “Alhasil dolar melemah dan rupiah menguat hingga di bawah level 10.500,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (4/5).
Menurut Purbaya, penguatan rupiah terjadi karena perekonomian Indonesia dianggap lebih baik dibandingkan negara kawasan. Terlihat dimana ekonomi dalam negeri masih positif, sementara ekonomi negara Asia lainnya masih negatif. “Indonesia memiliki daya tarik untuk memikat masuknya dana asing ke pasar domestik,” jelasnya.
Ekspektasi terjadinya pertumbuhan ekonomi, tercermin dari deflasi April sebesar 0,3% dan peluang turunnya BI rate. Selain itu sinyal bahwa ekonomi Indonesia sudah menyentuh bottom, sehingga tinggal menanti momentum rebound. “Itu semua mendorong sentimen positif ke pasar modal dan uang ditandai dengan penguatan rupiah,” tuturnya.
Lebih lanjut Purbaya mengatakan, annual meeting ke-42 Asian Development Bank (ADB) di Bali, turut menopang penguatan rupiah. Hal ini terkait aksi negara-negara anggota yang membuat pooling fund sebesar US$ 120 miliar. “Walaupun implementasinya tidak dalam waktu dekat, tapi sentimen positifnya sudah terefleksi di pasar,” tukasnya.
Melambungnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia juga menjadi pendorong penguatan rupiah. Ketika IHSG naik, pasar berekspektasi rupiah akan menguat terkait prediksi adanya dana asing masuk ke pasar modal. “Investor menganggap ada suplai dolar tambahan, sehingga rupiah menguat,” ujarnya.
Akibatnya, pergerakan indeks dengan rupiah hampir selalu searah. Kalau indeks menguat rupiah dipastikan menguat. Pada saat indeks melemah, investor berpikir kapital akan keluar. “Jadi, ada impact tambahan terhadap rupiah dari penguatan IHSG,” pungkasnya.
Nilai tukar rupiah sore ini terpantau berada di level 7.720 terhadap dolar Australia, di angka 13.978 terhadap mata uang gabungan negara Eropa dan di level 7.112 terhadap dolar Singapura.
Sementara, mata uang kawasan ditransaksikan bervariasi terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,33% ke level 99.446, dolar Singapura turun 0,28% ke posisi 1.478, won Korsel naik 0,98% ke angka 1.274, dolar Australia terkoreksi 0,55% menjadi 0.734, rupee India menguat 0,92% ke posisi 49.690 per dolar AS.
Sedangkan dolar New Zealand terdepresiasi 0,71% ke angka 0.574, dolar Taiwan melemah 0,51% menjadi 33.089, yuan China terapresiasi 0,01% ke posisi 6.822, peso Filipina merosot 0,28% ke angka 48.123, ringgit Malaysia melambung 1,05% ke level 3.531, dan baht Thailand terangkat 0,17% terhadap dolar AS menjadi 35.225. [E2]
$(function(){$('#inilahtabs').tabs();});
Yes! Rupiah Menguat Tembus Rp 10.500 4/5/2009
INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin pagi menembus angka Rp 10.500 per dolar.
Ini disebabkan aksi beli rupiah oleh pelaku pasar setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi April 2009 deflasi sebesar 0,31%. Nilai tukar rupiah naik menjadi Rp 10.465-Rp10.475 per dolar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 10.585-Rp10.595 atau naik 120 poin.
Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga di Jakarta, mengatakan, laju inflasi April 2009 yang lebih rendah dari bulan sebelumnya memicu pelaku pasar positif terhadap pergerakan rupiah. "Pelaku pasar dengan antusias memburu rupiah sehingga mata uang lokal itu terus bergerak hingga menembus angka Rp 10.500 per dolar," ucapnya.
Sentimen positif pasar itu, menurut dia diperkirakan akan masih berlanjut hingga penutupan pasar nanti, karena melihat aksi beli pasar yang cukup besar. "Kami memperkirakan rupiah akan terus menguat menjauhi angka Rp10.500 per dolar," ujarnya.
Menurut Edwin Sinaga, kenaikan rupiah diharapkan tidak terlalu cepat, karena kurang menguntungkan bagi eksportir. "Boleh saja naik, namun kenaikannya tidak terlalu tinggi seperti yang terjadi pada saat ini," ucapnya.
Kenaikan rupiah itu, lanjut dia sejalan dengan makin membaik kinerja ekonomi Indonesia, meski ekspor menurun, namun hal itu terjadi karena permintaan pasar luar negeri cenderung berkurang. "Karena itu, pemerintah berusaha mencari jalan lain dengan mengalihkan ke pasar Eropa Timur yang masih tumbuh, meski untuk menuju ke sana tidak mudah," katanya.
Ia mengatakan, tembusnya rupiah di level Rp 10.500 per dolar sudah diperkirakan sebelumnya, karena pelaku pasar sudah siap menunggu laporan BPS yang cenderung positif. "Karena itu perdagangan di pasar uang saat ini didominasi aksi beli rupiah yang cukup marak," ucapnya. [*/cms]
30 April 2009
Ayo....Saatnya Memburu Rupiah.....
Ahmad Munjin
(inilah.com/ Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada Rabu (30/4) masih berpeluang melanjutkan penguatan. Investor mengantisipasi aksi Bank Indonesia (BI) yang diperhitungkan akan memangkas suku bunga acuan, dengan memburu rupiah.
Analis Sentral Asset Futures, Andri Zacharias mengatakan, rupiah akan cenderung bergerak menguat hingga akhir pekan. Sentimen negatif dari ancaman wabah flu babi dinilai belum akan terjadi dalam waktu dekat. “Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 10.650-10.700 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, pandemik flu babi memang menimbulkan kekhawatiran di antara pelaku pasar. Hal ini terkait terganggunya potensi industri Indonesia, khususnya sektor pariwisata. Pasalnya setelah harga migas turun, Indonesia mengandalkan pemasukan dari arus wisatawan. Namun, lanjutnya, masalah ini diperkirakan baru mulai mengganggu dalam 3-4 bulan mendatang.
“Apalagi Menkes mengatakakan kalau virus ini hanya bisa tumbuh di kawasan empat musim,” ujarnya.
Investor saat ini mengantisipasi rilisnya data inflasi bulan April pada Jumat (1/5), yang diekspektasi masih cukup tinggi dibanding bulan Maret, meski secara tahunan menunjukkan penurunan. Tingginya inflasi dipicu meningkatnya konsumsi dalam masa kampanye.
“Dengan adanya kenaikan inflasi setiap menjelang Pemilu, mungkin akan ada inflasi lagi menjelang pemilihan presiden bulan Mei mendatang,” katanya.
Kondisi ini, lanjutnya, memberi sinyal bahwa agresivitas BI mulai melambat dalam menurunkan suku bunganya. Terbatasnya peluang BI menurunkan BI rate juga terlihat dari real interest rate yang negatif. Dengan angka inflasi di 7,8% dan BI rate di 7,5%, maka real interest rate minus 0,3%.
“Investor pun melakukan antisipasi dengan memburu rupiah. Mereka baru melepasnya lagi kalau BI sudah mengkonfirmasi penurunan BI rate,” tegasnya.
Di sisi lain, tutur Andri, dolar AS di pasar eksternal masih konsolidasi. Mata uang AS ini menunggu arah kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) tentang suku bunga acuannya. Kalau ECB memangkas tingkat bunganya, maka euro akan tertekan. Alhasil dolar mendapat dukungan untuk menguat.
Hal senada diungkapkan Winang Budoyo, analis valas Bank CIMB Niaga. Menurutnya, rupiah hari akan bergerak relatif terbatas. Investor melakukan aksi wait and see terhadap pengumuman inflasi April yang diperkirakan lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya. “Rupiah hari ini akan tetap berada di kisaran 10.800 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.
Dengan turunnya inflasi, maka risiko bisnis dan penanaman modal akan lebih rendah. Imbal hasil yang diperoleh investor pun akan bertambah sehingga mereka tertarik untuk berinvestasi di pasar domestik. Hal ini berimbas pada penguatan rupiah. “Sentimen psoitif perekonomian Indonesia ini mampu menopang penguatan rupiah hingga pekan depan,” ujarnya.
Menurutnya, selama sepekan terakhir, faktor politik dan inflasi menjadi hal yang dinanti investor. Ia pun memprediksi berita besar dari politik nasional baru akan muncul pekan depan, meksipun tidak menutup kemungkinan potensi perubahan besar politik nasional dalam waktu yang lebih dekat. ”Namun untuk hari ini, kemungkinan sentimen terhadap rupiah masih akan datar-datar saja,” tegasnya.
Ia memprediksikan ancaman aksi profit taking pelaku pasar tidak akan terjadi pekan ini karena pergerakannya yang tipis. Pasar cenderung menunggu berita baru, baik dari inflasi maupun politik. “Kalau menunggu berarti tidak melakukan aksi apapun, baik jual maupun beli,” pungkasnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta Rabu (29/4) menguat 10 poin terhadap dolar AS menjadi 10.800. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup bervariasi. Rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke 7.264,24, atas dolar Hongkong naik ke 1.395,39, terhadap dolar Australia melemah ke 7.753,27 dan atas euro melemah ke 14.321,21 .
Sementara itu, mata uang kawasan mendominasi penguatan terhadap dolar AS. Hanya lima mata uang yang melemah. Yen Jepang merosot 0,33% menjadi 96,764, dolar Hong Kong terkoreksi 0,004% ke level 7,750, dolar Australia anjlok 1,11% ke posisi 0,714, dolar Selandia Baru terjun 1,59% ke angka 0,567, dan peso Filipina yang turun 0,56% menjadi 48,675 per dolar AS.
Selebihnya, mata uang kawasan menguat terhadap dolar AS. Dolar Singapura terapresiasi 0,22% ke angka 1,493, dolar Taiwan naik 0,40% ke level 33,652, won Korsel terangkat 0,85% ke posisi 1,339, rupee India terdongkrak 0,60% menjadi 50,210, yuan China terkerek naik 0,01% ke angka 6,825, ringgit Malaysia merambat naik 0,53% ke posisi 3,593, dan baht Thailand terbang 0,09% terhadap dolar AS ke level 35,385. [E2]
Rupiah Kembali Terangkat.......
VIVAnews - Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pukul 08.40 WIB terangkat kembali di kisaran level 10.670-10.700 per dolar Amerika Serikat (US$).Pasalnya, pada penutupan Rabu, 29 April 2009, di pasar spot antarbank Jakarta, mata uang lokal itu ditutup pada kisaran level 10.845-10.859 per dolar AS.Sedangkan data kurs tengah mata uang asing Bank Indonesia, rupiah bercokol di level 10.859/US$.
Menurut Frans Darwin Sinurat, dealer valas PT Bank Century Tbk, menguatnya sebagian besar mata uang regional terhadap dolar AS menjadi pemicu utama penguatan rupiah pagi ini."Saat pembukaan rupiah langsung menguat di kisaran 10.750-10.775/US$," ujarnya kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis, 30 April 2009.
Sementara itu, berdasarkan data transaksi perdagangan Bloomberg, rupiah pukul 08.30 WIB, berada di posisi 10.750 per dolar AS. Dia memperkirakan, mata uang lokal tersebut pada siang sampai penutupan sore hari nanti cenderung menguat di kisaran level 10.650/US$. Sebab, masuknya modal asing (capital inflow) di pasar saham domestik bakal mendorong pergerakan positif rupiah.
"Tapi, korporasi dan investor tetap melakukan aksi buru dolar AS untuk disimpan," tuturnya.Sementara itu, data proyeksi likuiditas Bank Indonesia pada pukul 08.30 WIB menunjukkan likuiditas di pasar domestik meningkat menjadi Rp 79,27 triliun dibandingkan posisi transaksi kemarin di Rp 35,65 triliun.
Data instrumen Operasi Pasar Terbuka yang jatuh tempo juga mencapai Rp 65,35 triliun, atau naik dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp 33,27 triliun.Sedangkan, excess reserve akhir hari tercatat meningkat menjadi Rp 1,7 triliun dari transaksi kemarin yang sebesar Rp 1,41 triliun.• VIVAnews
(inilah.com/ Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada Rabu (30/4) masih berpeluang melanjutkan penguatan. Investor mengantisipasi aksi Bank Indonesia (BI) yang diperhitungkan akan memangkas suku bunga acuan, dengan memburu rupiah.
Analis Sentral Asset Futures, Andri Zacharias mengatakan, rupiah akan cenderung bergerak menguat hingga akhir pekan. Sentimen negatif dari ancaman wabah flu babi dinilai belum akan terjadi dalam waktu dekat. “Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 10.650-10.700 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, pandemik flu babi memang menimbulkan kekhawatiran di antara pelaku pasar. Hal ini terkait terganggunya potensi industri Indonesia, khususnya sektor pariwisata. Pasalnya setelah harga migas turun, Indonesia mengandalkan pemasukan dari arus wisatawan. Namun, lanjutnya, masalah ini diperkirakan baru mulai mengganggu dalam 3-4 bulan mendatang.
“Apalagi Menkes mengatakakan kalau virus ini hanya bisa tumbuh di kawasan empat musim,” ujarnya.
Investor saat ini mengantisipasi rilisnya data inflasi bulan April pada Jumat (1/5), yang diekspektasi masih cukup tinggi dibanding bulan Maret, meski secara tahunan menunjukkan penurunan. Tingginya inflasi dipicu meningkatnya konsumsi dalam masa kampanye.
“Dengan adanya kenaikan inflasi setiap menjelang Pemilu, mungkin akan ada inflasi lagi menjelang pemilihan presiden bulan Mei mendatang,” katanya.
Kondisi ini, lanjutnya, memberi sinyal bahwa agresivitas BI mulai melambat dalam menurunkan suku bunganya. Terbatasnya peluang BI menurunkan BI rate juga terlihat dari real interest rate yang negatif. Dengan angka inflasi di 7,8% dan BI rate di 7,5%, maka real interest rate minus 0,3%.
“Investor pun melakukan antisipasi dengan memburu rupiah. Mereka baru melepasnya lagi kalau BI sudah mengkonfirmasi penurunan BI rate,” tegasnya.
Di sisi lain, tutur Andri, dolar AS di pasar eksternal masih konsolidasi. Mata uang AS ini menunggu arah kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) tentang suku bunga acuannya. Kalau ECB memangkas tingkat bunganya, maka euro akan tertekan. Alhasil dolar mendapat dukungan untuk menguat.
Hal senada diungkapkan Winang Budoyo, analis valas Bank CIMB Niaga. Menurutnya, rupiah hari akan bergerak relatif terbatas. Investor melakukan aksi wait and see terhadap pengumuman inflasi April yang diperkirakan lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya. “Rupiah hari ini akan tetap berada di kisaran 10.800 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.
Dengan turunnya inflasi, maka risiko bisnis dan penanaman modal akan lebih rendah. Imbal hasil yang diperoleh investor pun akan bertambah sehingga mereka tertarik untuk berinvestasi di pasar domestik. Hal ini berimbas pada penguatan rupiah. “Sentimen psoitif perekonomian Indonesia ini mampu menopang penguatan rupiah hingga pekan depan,” ujarnya.
Menurutnya, selama sepekan terakhir, faktor politik dan inflasi menjadi hal yang dinanti investor. Ia pun memprediksi berita besar dari politik nasional baru akan muncul pekan depan, meksipun tidak menutup kemungkinan potensi perubahan besar politik nasional dalam waktu yang lebih dekat. ”Namun untuk hari ini, kemungkinan sentimen terhadap rupiah masih akan datar-datar saja,” tegasnya.
Ia memprediksikan ancaman aksi profit taking pelaku pasar tidak akan terjadi pekan ini karena pergerakannya yang tipis. Pasar cenderung menunggu berita baru, baik dari inflasi maupun politik. “Kalau menunggu berarti tidak melakukan aksi apapun, baik jual maupun beli,” pungkasnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta Rabu (29/4) menguat 10 poin terhadap dolar AS menjadi 10.800. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup bervariasi. Rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke 7.264,24, atas dolar Hongkong naik ke 1.395,39, terhadap dolar Australia melemah ke 7.753,27 dan atas euro melemah ke 14.321,21 .
Sementara itu, mata uang kawasan mendominasi penguatan terhadap dolar AS. Hanya lima mata uang yang melemah. Yen Jepang merosot 0,33% menjadi 96,764, dolar Hong Kong terkoreksi 0,004% ke level 7,750, dolar Australia anjlok 1,11% ke posisi 0,714, dolar Selandia Baru terjun 1,59% ke angka 0,567, dan peso Filipina yang turun 0,56% menjadi 48,675 per dolar AS.
Selebihnya, mata uang kawasan menguat terhadap dolar AS. Dolar Singapura terapresiasi 0,22% ke angka 1,493, dolar Taiwan naik 0,40% ke level 33,652, won Korsel terangkat 0,85% ke posisi 1,339, rupee India terdongkrak 0,60% menjadi 50,210, yuan China terkerek naik 0,01% ke angka 6,825, ringgit Malaysia merambat naik 0,53% ke posisi 3,593, dan baht Thailand terbang 0,09% terhadap dolar AS ke level 35,385. [E2]
Rupiah Kembali Terangkat.......
VIVAnews - Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pukul 08.40 WIB terangkat kembali di kisaran level 10.670-10.700 per dolar Amerika Serikat (US$).Pasalnya, pada penutupan Rabu, 29 April 2009, di pasar spot antarbank Jakarta, mata uang lokal itu ditutup pada kisaran level 10.845-10.859 per dolar AS.Sedangkan data kurs tengah mata uang asing Bank Indonesia, rupiah bercokol di level 10.859/US$.
Menurut Frans Darwin Sinurat, dealer valas PT Bank Century Tbk, menguatnya sebagian besar mata uang regional terhadap dolar AS menjadi pemicu utama penguatan rupiah pagi ini."Saat pembukaan rupiah langsung menguat di kisaran 10.750-10.775/US$," ujarnya kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis, 30 April 2009.
Sementara itu, berdasarkan data transaksi perdagangan Bloomberg, rupiah pukul 08.30 WIB, berada di posisi 10.750 per dolar AS. Dia memperkirakan, mata uang lokal tersebut pada siang sampai penutupan sore hari nanti cenderung menguat di kisaran level 10.650/US$. Sebab, masuknya modal asing (capital inflow) di pasar saham domestik bakal mendorong pergerakan positif rupiah.
"Tapi, korporasi dan investor tetap melakukan aksi buru dolar AS untuk disimpan," tuturnya.Sementara itu, data proyeksi likuiditas Bank Indonesia pada pukul 08.30 WIB menunjukkan likuiditas di pasar domestik meningkat menjadi Rp 79,27 triliun dibandingkan posisi transaksi kemarin di Rp 35,65 triliun.
Data instrumen Operasi Pasar Terbuka yang jatuh tempo juga mencapai Rp 65,35 triliun, atau naik dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp 33,27 triliun.Sedangkan, excess reserve akhir hari tercatat meningkat menjadi Rp 1,7 triliun dari transaksi kemarin yang sebesar Rp 1,41 triliun.• VIVAnews
29 April 2009
Permintaan Dollar Sepi,Rupiah Menguat
Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pukul 08.40 WIB kembali menguat di kisaran level 10.890-10.900 per dolar Amerika Serikat (US$).Pasalnya, pada penutupan Selasa, 28 April 2009, di pasar spot antarbank Jakarta, mata uang lokal itu ditutup pada kisaran level 10.835-10.930 per dolar AS.
Sedangkan data kurs tengah mata uang asing Bank Indonesia, rupiah bercokol di level 10.840/US$.Menurut Bayu Fadjar Aini, dealer valas salah satu bank swasta ternama Jakarta, masih sepinya transaksi jual beli dolar AS menjadi katalis penguatan rupiah pagi ini.
"Penguatan sebagian besar mata uang regional, seperti eur Eropa, dolar Singapura, dan baht Thailand terhadap dolar AS juga memicu," ujarnya kepada VIVAnews di Jakarta, Rabu, 29 April 2009.Sementara itu, berdasarkan data transaksi perdagangan Bloomberg, rupiah pukul 08.30 WIB, berada di posisi 10.850 per dolar AS.
Dia memperkirakan, transaksi jual dan beli mata uang lokal tersebut pada siang sampai penutupan sore hari nanti cenderung stabil di kisaran level 10.890-10.910 per dolar AS. "Sebab, permintaan dan suplai dolar masih berimbang," ujar Bayu.Sementara itu, data proyeksi likuiditas Bank Indonesia pada pukul 08.30 WIB menunjukkan likuiditas di pasar domestik meningkat menjadi Rp 30,14 triliun dibandingkan posisi transaksi kemarin di Rp 27,32 triliun.
Data instrumen Operasi Pasar Terbuka yang jatuh tempo juga mencapai Rp 33,27 triliun, atau naik dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp 30,70 triliun.Sedangkan, excess reserve akhir hari tercatat menurun menjadi Rp 1,7 triliun dari transaksi kemarin yang sebesar Rp 2,97 triliun.
Sedangkan data kurs tengah mata uang asing Bank Indonesia, rupiah bercokol di level 10.840/US$.Menurut Bayu Fadjar Aini, dealer valas salah satu bank swasta ternama Jakarta, masih sepinya transaksi jual beli dolar AS menjadi katalis penguatan rupiah pagi ini.
"Penguatan sebagian besar mata uang regional, seperti eur Eropa, dolar Singapura, dan baht Thailand terhadap dolar AS juga memicu," ujarnya kepada VIVAnews di Jakarta, Rabu, 29 April 2009.Sementara itu, berdasarkan data transaksi perdagangan Bloomberg, rupiah pukul 08.30 WIB, berada di posisi 10.850 per dolar AS.
Dia memperkirakan, transaksi jual dan beli mata uang lokal tersebut pada siang sampai penutupan sore hari nanti cenderung stabil di kisaran level 10.890-10.910 per dolar AS. "Sebab, permintaan dan suplai dolar masih berimbang," ujar Bayu.Sementara itu, data proyeksi likuiditas Bank Indonesia pada pukul 08.30 WIB menunjukkan likuiditas di pasar domestik meningkat menjadi Rp 30,14 triliun dibandingkan posisi transaksi kemarin di Rp 27,32 triliun.
Data instrumen Operasi Pasar Terbuka yang jatuh tempo juga mencapai Rp 33,27 triliun, atau naik dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp 30,70 triliun.Sedangkan, excess reserve akhir hari tercatat menurun menjadi Rp 1,7 triliun dari transaksi kemarin yang sebesar Rp 2,97 triliun.
28 April 2009
Rupiah Tergerus Flu Babi
Metrotvnews.com, Jakarta:
Di tengah kepanikan pasar karena merebaknya virus flu babi rupiah pada perdagangan Selasa (28/4) pagi ini masih stabil. Saat ini rupiah berada di level Rp 10.860 per dolar Amerika atau turun 30 poin dari perdagangan pagi Senin kemarin.
Menurut analis pasar uang Rahmad Wibisono, virus flu babi dikhawatirkan akan menghambat arus lalu-lintas orang dan barang dan dapat memperlambat laju perbaikan krisis ekonomi. Akibat berita virus flu babi sejumlah bursa kuat dunia bahkan telah berada di zona negatif. Apabila hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikut terimbas ke zona negatif dikhawatirkan rupiah juga akan ikut tergerus.
Namun, Rahmad mengatakan, secara teknikal rupiah masih berada pada kecenderungan penguatan. Diharapkan kabar mengenai virus ini tidak ikut berimbas pada stabilitas rupiah. Hari ini rupiah diperkirakan berada di rentang Rp 10.820 sampai Rp 10.880 per dolar Amerika.(DOR)
Di tengah kepanikan pasar karena merebaknya virus flu babi rupiah pada perdagangan Selasa (28/4) pagi ini masih stabil. Saat ini rupiah berada di level Rp 10.860 per dolar Amerika atau turun 30 poin dari perdagangan pagi Senin kemarin.
Menurut analis pasar uang Rahmad Wibisono, virus flu babi dikhawatirkan akan menghambat arus lalu-lintas orang dan barang dan dapat memperlambat laju perbaikan krisis ekonomi. Akibat berita virus flu babi sejumlah bursa kuat dunia bahkan telah berada di zona negatif. Apabila hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikut terimbas ke zona negatif dikhawatirkan rupiah juga akan ikut tergerus.
Namun, Rahmad mengatakan, secara teknikal rupiah masih berada pada kecenderungan penguatan. Diharapkan kabar mengenai virus ini tidak ikut berimbas pada stabilitas rupiah. Hari ini rupiah diperkirakan berada di rentang Rp 10.820 sampai Rp 10.880 per dolar Amerika.(DOR)
Langganan:
Postingan (Atom)