Rupiah Konsolidasi Cukup Panjang
Natascha & Ahmad Munjin
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (24/6) diperkirakan sideways. Penguatan dolar AS atas tingginya permintaan masih masih menekan rupiah, namun capital inflow akan menahan koreksi mata uang lokal ini lebih dalam.
Research analyst pada bank BUMN M Kodrat Muis mengatakan, ada kecenderungan pelaku pasar masih memburu aset safe haven, sehingga rupiah akan melemah. Namun, potensi penguatan rupiah juga terbuka dikendalikan aliran dana masuk. “Rupiah hari ni akan bergerak di level 10.000-10.500 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (23/6) malam.
Rupiah sebelumnya sempat menyentuh angka 9.900 per dolar AS, kemudian melemah lagi menjauhi angka 10 ribu. Hal ini mengkonfirmasi bahwa level ini bukan posisi yang nyaman bagi pasar.
Namun, rupiah kini berada dalam periode konsolidasi cukup panjang dan hal ini akan berlangsung cukup lama, yaitu hingga Oktober. “Investor sudah merasa nyaman pada posisi ini. Ekuilibrium baru untuk rupiah di kisaran 10 ribu hingga 10.500 per dolar AS membuat rupiah bisa bertahan. Karena secara sentimen, ada tarik menarik antar spekulan,” katanya.
Menurut Kodrat, arus penarikan dana dari aset-aset di emerging market, termasuk rupiah menuju safe haven, tidak akan membuat mata uang RI itu goyah. Pasalnya dana panas di Indonesia hanya tinggal 50%. “Capital outflow tidak perlu dikhawatirkan karena tidak memberi tekanan pada rupiah,” ungkapnya.
Ia menilai, kondisi fundamental Indonesia masih mendukung rupiah meskipun dampak pemburukan ekonomi global tidak bisa dihindari, mengingat sektor ekspor dalam negeri sudah terinfeksi.
Kodrat menuturkan, para hedge fund saat ini masih tertarik berinvestasi di pasar domestik kendati suku bunga berada dalam trend penunan. “Karena disparitas dengan suku bunga The Fed masih cukup menarik ketimbang negara lain,” imbuhnya.
Aspek lainnya berasal dari inflasi Juni yang tidak menekan rupiah. Menurutnya, inflasi kali ini akan turun melebihi estimasi, mengingat tidak adanya efek harga BBM seperti Mei tahun lalu. Ia pun memprediksikan, inflasi akan mencapai angka 5% secara year on year.
“Dengan BI rate di level 7%, maka real interest ratenya sekitar 2%. BI ada room untuk saving modal dan menambah cadangan devisa untuk stand by loan sehingga menjaga stabilitas rupiah,” paparnya.
Menurutnya, rupiah masih akan konsolidasi untuk jangka menengah panjang. Hal ini terjadi selama rupiah dijaga supaya tidak tembus ke level psikologis 10.650. Posisi ini merupakan level resistan kuat yang tidak tertembus sejak April, dimana pasar akan jual dolar sebelumn menyentuh angka 10.500.
“BI juga akan standby di level 10.500 per dolar AS, dan menghindari rupiah melemah ke level 10.650 dengan amunisi penuh,” ungkapnya.
Frans Darwin Sinurat, analis valas Bank Century memprediksikan rupiah masih akan bergerak sideways. Meningkatnya permintaan korporasi akan dolar AS di akhir bulan akan menekan rupiah, namun pelemahan ini terbatas karena Bank Indonesia terus mengintervensi pasar.
“Bahkan, akibat intervensi BI itu rupiah bepeluang menguat ke arah 10.400. Kalaupun melemah akan kembali ke level penutupan kemarin pada leevel 10.450,” jelasnya.
Untuk jangka pendek, lanjutnya, pelaku pasar cenderung memegang dolar AS sehingga rupiah tertekan. Hal ini mengingat adanya spekulasi tentang kondisi ekonomi politik menjelang pelaksanaan pilpres mendatang.
”Kalau pilpres berjalan aman pasti rupiah akan kembali menguat,” ujarnya. “Apalagi kebutuhan dolar di market telah disuplai oleh Bank Indonesia sehingga mata uang RI itu tidak melemah tajam.”
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (23/6) melemah 18 poin terhadap dolar AS menjadi 10.450. [E2]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar