23 Juni 2009

‘Safe Haven’ Diburu, Rupiah Tertekan
Natascha & Ahmad Munjin

Nilai tukar rupiah pada Selasa (23/6) berpotensi menguat, meskipun kecenderungan koreksi lebih besar. Hal ini dipicu menguatnya dolar AS, serta meningkatnya kekhawatiran pemburukan ekonomi yang menyebabkan diburunya aset safe haven.

Pengamat pasar valas Andri Zacharias mengatakan, peluang rupiah hari ini untuk menguat masih terbuka. Namun potensi koreksi mata uang lokal ini lebih banyak akibat sentimen global. “Rupiah akan tertekan di level 10.250-10.600 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (22/6) malam.

Pada perdagangan kemarin, mata uang dolar AS menguat sehingga menekan rupiah dan mata uang regional lainnya. Penguatan dolar ini dipicu downgrade pertumbuhan global Bank Dunia serta jelang pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) sehingga investor keluar posisi dari aset berimbal hasil tinggi. “Pilihannya adalah ke mata uang AS atau profit taking,” ujarnya.

Andri melanjutkan, pertumbuhan yang terlalu cepat dan trend pengangguran AS yang masih tinggi, menyebabkan pasar mencari aset safe haven. Ada spekulasi bahwa dana-dana itu keluar dari pasar saham emerging market dan kawasan Eropa serta beralih ke dolar.
“Namun, di sisi lain, ada spekulasi ekonomi AS pulih lebih cepat, sehingga ada kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunganya,” jelasnya. Di tengah ketidakpastian ini, lanjutnya, pelaku pasar memillih keluar dari posisi valasnya dan beralih ke US treasury yang ditawarkan pekan ini.

Apalagi trend pergerakan dolar yang sebenarnya melemah, ditambah suku bunga yang terendah, menjadikan dolar tidak menarik. “Sehingga orang mencari safe haven lain yaitu US treasury,” paparnya.

Dari dalam negeri, aksi pemerintah Rabu (24/6) besok menerbitkan Surat Utang Negara (SUN), dinilai tidak berarti banyak bagi penguatan rupiah. Pasalnya, penerbitan SUN bersamaan dengan penawaran US treasury. Dengan perbandingan tenor yang sama 5-10 tahun, US treasury menawarkan yield 3-4%, lebih rendah dari SUN yang sebesar 8%.
Namun, ekspektasi kekhawatiran pemburukan ekonomi masih berlangsung, sehingga pasar cenderung memilih US treasury ketimbang SUN. “Jadi, hanya sisa-sisa dana yang akan masuk ke SUN Indonesia,” ulasnya.

Hal senada diungkapkan pengamat pasar uang David Sumual yang memprediksikan rupiah hari ini masih melanjutkan pelemahan akibat menguatnya dolar AS. Namun koreksi ini terbatas dan cenderung stabil pada level 10.400-an. “Kisaran pergerakan rupiah masih berada di 10.300 hingga 10.500 per dolar AS,” ungkapnya.

Menurutnya, trend global saat ini menunjukkan dolar AS sedang menguat, menyusul keluarnya data-data ekonomi AS yang kembali mengkhawatirkan. Seperti naiknya data pengangguran AS dan data penjualan rumah baru di AS yang menunjukkan penurunan.
Selain itu data inflasi AS April yang tumbuh negatif alias deflasi 0,7% dari Mei 1,3% (year on year). Hal ini menandakan ekonomi AS belum menggeliat. “Akibatnya, ada kekhawatiran di market apakah benar ekonomi pulih akhir tahun ini atau awal tahun depan,” tuturnya.

Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (22/6) melemah 52 poin terhadap dolar AS menjadi 10.432. Demikian nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya. Rupiah terhadap dolar Singapura turun ke 7.187,91, atas dolar Hongkong turun menjadi 1.352,83, terhadap dolar Australia menguat ke 8.346,06 dan atas euro ditutup melemah ke level 14.510,72. [E2]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar